Info Namun — Siapa sangka, lahan kosong seluas 1,1 hektare di bawah kolong Jalan Tol Becakayu yang dahulu tak terurus, kini berubah menjadi ruang produktif yang memberikan rezeki bagi warga sekitar. Area yang sebelumnya dikenal kumuh, gelap, dan tak terpakai itu kini menjelma menjadi pusat aktivitas ekonomi, ruang hijau, dan lokasi pemberdayaan masyarakat.
Dari Lahan Terbengkalai Menjadi Pusat Kegiatan Warga
Kolong tol kerap identik dengan tempat pembuangan sampah, area gelap, atau lokasi rawan aktivitas negatif. Namun warga yang tinggal di sekitar Kecamatan Duren Sawit dan Pondok Kelapa justru mengubah stigma itu. Dengan dukungan komunitas, penggiat lingkungan, serta pemerintah kota, lahan terbuka tersebut diolah menjadi zona bernilai ekonomi.
Mulai dari kebun sayur, budidaya tanaman hidroponik, kantin sederhana, hingga lapak UMKM, semuanya tumbuh di area yang dulunya hanya dilintasi kendaraan tanpa pernah diperhatikan.
“Awalnya cuma coba-coba tanam kangkung dan cabai. Eh, ternyata bisa tumbuh bagus. Dari situ kami mulai sepakat memanfaatkan lahan ini bersama,” kata salah satu warga pengelola kebun.
Pemberdayaan Warga Lewat Pertanian Perkotaan
Urban farming menjadi daya tarik utama area 1,1 hektare ini. Bedengan sayur, polybag berisi cabai dan tomat, hingga rak hidroponik berjejer rapi di antara tiang-tiang beton tol Becakayu. Kontras antara struktur tol modern dan hamparan hijau membuat tempat ini ramai dikunjungi warga sekitar.
Hasil panen, meski tidak dalam skala besar, cukup untuk dijual ke pasar lokal maupun warung sekitar, sehingga menambah pemasukan keluarga.
“Sehari bisa dapat Rp100.000–200.000 dari penjualan sayur. Lumayan buat tambahan dapur,” ujar petani urban lainnya.

baca juga: Ikuti Rapat Sengketa Lahan Eigendom Surabaya, Eri Cahyadi Sebut Ada Titik Terang
UMKM dan Warung Kopi Ikut Tumbuh
Tak hanya pertanian, geliat ekonomi juga terlihat dari hadirnya lapak UMKM. Beberapa warga mendirikan warung kopi kecil, kios jajanan, hingga bengkel motor sederhana. Area tersebut menjadi tempat berkumpul warga, sekaligus ruang kerja bagi mereka yang sebelumnya kesulitan mencari tempat usaha.
“Di sini gratis, yang penting bersih dan tertib. Jadi kami bisa buka usaha tanpa modal besar,” ucap seorang pedagang minuman.
Pengelolaan lahan dilakukan secara kolektif dengan sistem jaga dan bersih-bersih rutin untuk memastikan area tetap aman dan nyaman bagi pengunjung.
Pemerintah Melirik, Model Replikasi untuk Wilayah Lain
Keberhasilan warga memanfaatkan area kolong tol ini tak lepas dari perhatian Pemkot Jakarta Timur. Pemerintah daerah kini sedang mempertimbangkan untuk mereplikasi model serupa di wilayah lain yang memiliki ruang kolong tol luas namun belum termanfaatkan.
Menurut pemerintah, apa yang dilakukan warga mampu menjawab tantangan keterbatasan ruang di kota besar. Alih-alih menjadi titik kumuh, kolong tol bisa menjadi ruang produktif yang bermanfaat bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif warga. Ini inspirasi bagi wilayah lain,” ujar pejabat Pemkot Jaktim.
Tantangan: Kebersihan, Keamanan, dan Legalitas
Meski berhasil menjadi ruang produktif, tantangan tetap ada. Salah satunya terkait legalitas penggunaan lahan, mengingat area tersebut berada di bawah kewenangan operator tol. Selain itu, faktor keamanan dan kebersihan harus terus diawasi agar aktivitas ekonomi tidak menimbulkan dampak negatif.
Warga berharap pemerintah dan pengelola tol dapat memberikan izin pemanfaatan jangka panjang agar tidak terjadi pembongkaran mendadak.
Ladang Rezeki yang Mengubah Wajah Kota
Transformasi kolong tol Becakayu menjadi ladang rezeki membuktikan bahwa ruang kota yang terabaikan dapat bernilai tinggi jika dikelola dengan kreatif. Selain meningkatkan ekonomi lokal, ruang ini juga menciptakan ruang publik baru yang indah dan ramah lingkungan.
Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, kreatifitas warga menjadi inspirasi bahwa setiap sudut kota memiliki potensi, termasuk lahan yang berada tepat di bawah jalan bebas hambatan.
















