Info Namun – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) mengungkapkan bahwa terdapat sedikitnya 10 titik rawan banjir di kawasan inti maupun wilayah penyangga IKN. Temuan ini menjadi perhatian serius karena pembangunan IKN dirancang mengusung konsep kota hutan yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Identifikasi Titik Banjir Berdasarkan Kajian Lapangan
OIKN menyampaikan bahwa titik rawan banjir ditemukan berdasarkan pemetaan hydrological hazard, analisis kontur tanah, serta pengamatan intensif selama musim penghujan. Mayoritas titik berada di area rendah, pertemuan aliran air, hingga lokasi dengan drainase sementara yang belum terhubung ke jaringan utama.
“Sebagian besar titik ini muncul karena infrastruktur belum sepenuhnya tersambung. Setelah pembangunan jaringan drainase utama selesai, risiko akan menurun signifikan,” kata salah satu pejabat OIKN.
Titik rawan banjir umumnya muncul ketika hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan yang sedang dalam tahap konstruksi.
Otorita Siapkan Langkah Mitigasi Cepat
Untuk mengantisipasi potensi genangan, OIKN telah menyiapkan serangkaian langkah mitigasi cepat yang melibatkan kontraktor, Kementerian PUPR, dan unsur teknis lainnya. Adapun langkah tersebut meliputi:
-
Pembersihan rutin saluran drainase sementara.
-
Penambahan pompa air portable di titik rendah.
-
Pembuatan cekungan penampung sementara (temporary retention basin).
-
Peninggian jalur akses konstruksi agar tidak memperparah limpasan air.
Selain langkah cepat, pekerja lapangan juga menerima instruksi siaga ketika prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan lebat.
/2024/12/17/1116051255.jpg)
Baca juga: Padi Gogo, Solusi Strategis untuk Ketahanan Pangan IKN
Desain Tata Air IKN Dibangun untuk Kota Tanpa Banjir
Meskipun masih terjadi genangan sementara, OIKN menegaskan bahwa secara jangka panjang, IKN dirancang menjadi kota tanpa banjir, dengan sistem tata air yang terintegrasi:
-
Green–blue infrastructure
Kawasan IKN dipenuhi ruang terbuka hijau, danau buatan, embung, serta saluran air ramah lingkungan yang memperlambat aliran permukaan. -
Konsep nature-based solutions
Rehabilitasi kawasan hulu dan penataan aliran sungai dilakukan untuk memastikan daya dukung ekosistem tetap stabil. -
Jaringan drainase terpisah (separate drainage system)
Air hujan dan air kotor dialirkan pada sistem berbeda sehingga penanganannya lebih efektif. -
Pemanfaatan teknologi pemantauan cuaca dan hidrologi
Sensor dan early warning system disiapkan agar pemerintah dapat merespons cepat jika potensi banjir meningkat.
OIKN menekankan bahwa genangan bersifat sementara dan bukan banjir permanen, karena area masih berada dalam fase konstruksi.
Kolaborasi dengan PUPR, BMKG, dan Peneliti Hidrologi
Untuk memperkuat tata kelola air, OIKN bekerja sama dengan:
-
Kementerian PUPR yang bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur utama
-
BMKG untuk menyediakan data cuaca presisi
-
Perguruan tinggi dan ahli hidrologi dalam menyusun model mitigasi jangka panjang
Kerja sama ini memastikan desain yang dibangun sesuai dengan kondisi geografis Kalimantan Timur yang memiliki curah hujan tinggi dan karakteristik tanah berlapis.
Masyarakat Diminta Tak Khawatir Berlebihan
OIKN memahami bahwa informasi mengenai titik rawan banjir mengundang kekhawatiran publik. Namun, pihaknya memastikan bahwa masalah ini muncul karena IKN sedang berada pada fase pembangunan masif, sehingga kontur tanah dan jalur air belum sepenuhnya tertata.
“Kami memastikan bahwa setiap temuan titik rawan langsung ditangani. Sistem final IKN dirancang untuk meminimalkan risiko jangka panjang,” ujar OIKN dalam keterangan resminya.
Komitmen IKN Menjadi Kota Nol-Banjir
Dengan penyelesaian bertahap drainase utama, pembangunan embung baru, serta perbaikan jaringan aliran sungai, OIKN optimistis angka titik rawan banjir akan berkurang secara signifikan mulai tahun depan.
OIKN menegaskan bahwa pengelolaan tata air adalah prioritas mutlak untuk memastikan IKN tumbuh sebagai kota masa depan yang tangguh, aman, dan berkelanjutan.
















