Info Namun – Menteri Sosial (Mensos) mengungkapkan bahwa penyaluran bantuan sosial (bansos) di Indonesia masih menghadapi persoalan ketidaktepatan sasaran. Berdasarkan hasil evaluasi pemerintah, sekitar 45 persen bansos dinilai belum tepat sasaran, sementara sekitar 15 juta warga yang tergolong mampu masih tercatat sebagai penerima Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).
Temuan tersebut menjadi dasar pemerintah untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem pendataan dan penyaluran bansos nasional.
Ketidaktepatan Sasaran Jadi Sorotan Serius
Mensos menjelaskan bahwa persoalan utama dalam penyaluran bansos terletak pada akurasi data penerima manfaat. Selama ini, masih ditemukan warga yang seharusnya tidak berhak justru menerima bantuan, sementara masyarakat miskin yang berhak justru terlewat.
“Ini menjadi perhatian serius pemerintah. Data menunjukkan masih ada ketidaktepatan sasaran yang cukup tinggi,” ujar Mensos dalam keterangannya.
15 Juta Warga Mampu Masuk Data PBI JK
Selain bansos, Mensos juga menyoroti kepesertaan PBI JK, di mana sekitar 15 juta warga yang secara ekonomi tergolong mampu masih tercatat sebagai penerima bantuan iuran jaminan kesehatan dari pemerintah.
Kondisi ini dinilai berpotensi membebani keuangan negara dan mengurangi hak masyarakat miskin yang seharusnya mendapatkan perlindungan kesehatan secara gratis.

Baca juga: MRT Koridor Timur-Barat Bakal Tembus Summarecon Serpong dan Tangerang
Masalah Utama Ada pada Data Terpadu
Mensos menegaskan bahwa akar persoalan terletak pada validitas dan pemutakhiran data. Selama bertahun-tahun, perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat tidak selalu tercatat secara cepat dan akurat.
Untuk itu, pemerintah kini mendorong pemanfaatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis utama penyaluran bantuan agar lebih tepat sasaran.
Pemerintah Lakukan Pemutakhiran dan Verifikasi
Sebagai langkah perbaikan, Kementerian Sosial bersama kementerian dan lembaga terkait terus melakukan:
-
Pemutakhiran data secara berkala
-
Verifikasi dan validasi penerima bansos
-
Pencocokan data lintas sektor
-
Evaluasi kepesertaan PBI JK
Proses ini dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah hingga tingkat desa dan kelurahan.
Digitalisasi Jadi Kunci Perbaikan
Mensos menilai digitalisasi penyaluran bansos menjadi kunci untuk menekan potensi kesalahan dan penyimpangan. Dengan sistem digital, pemerintah dapat melacak penerima bantuan secara lebih transparan dan akuntabel.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk aktif melaporkan jika menemukan ketidaksesuaian data penerima bansos di lingkungannya.
Jaga Keadilan dan Efektivitas Anggaran
Mensos menegaskan bahwa penataan ulang bansos dan PBI JK bukan untuk mengurangi hak masyarakat miskin, melainkan untuk menjaga keadilan sosial dan efektivitas penggunaan anggaran negara.
Dengan data yang lebih akurat, bantuan diharapkan benar-benar diterima oleh mereka yang paling membutuhkan.
Target Bansos Lebih Tepat Sasaran
Ke depan, pemerintah menargetkan penyaluran bansos dan PBI JK dapat semakin tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan. Evaluasi akan terus dilakukan agar program perlindungan sosial benar-benar berdampak pada pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mensos mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, untuk bersama-sama mengawal penyaluran bansos agar tepat guna dan tepat sasaran.
















