Info Namun – Upaya memperkuat praktik konservasi berkelanjutan di tingkat global semakin konkret dengan terjalinnya kemitraan antara International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL Group). Kedua pihak berkomitmen untuk mengembangkan ilmu konservasi berbasis data dan penelitian ilmiah yang dapat menjadi acuan dalam pengelolaan lanskap hutan dan keanekaragaman hayati di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Kerja sama tersebut diumumkan secara resmi dalam forum lingkungan internasional bertajuk “Science-Based Conservation for Sustainable Landscapes” yang digelar di Singapura, Sabtu (26/10/2025).
Kolaborasi untuk Konservasi Berbasis Ilmu Pengetahuan
Kemitraan IUCN–APRIL ini berfokus pada penguatan riset, pemantauan, dan kebijakan konservasi berbasis sains (science-based conservation). Dalam kolaborasi ini, kedua organisasi akan menggabungkan keahlian ilmiah dan praktik lapangan guna meningkatkan efektivitas perlindungan ekosistem di berbagai wilayah tropis.
Direktur Jenderal IUCN, Dr. Bruno Oberle, mengatakan bahwa kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam menjembatani sektor swasta dan lembaga konservasi global.
“Konservasi masa kini membutuhkan pendekatan kolaboratif antara dunia akademik, pemerintah, dan sektor bisnis. APRIL telah menunjukkan komitmen serius dalam pengelolaan lanskap berkelanjutan, dan kami ingin memperkuatnya dengan sains yang terukur,” ujarnya.
Menurut Dr. Oberle, kemitraan ini juga bertujuan untuk membangun model konservasi replikasi global, di mana praktik terbaik dari Indonesia dapat dijadikan contoh bagi negara lain yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.
Fokus pada Riset dan Restorasi Ekosistem
Kolaborasi ini mencakup berbagai aspek penelitian, termasuk pemantauan keanekaragaman hayati, pengelolaan area konservasi, restorasi hutan gambut, serta mitigasi perubahan iklim.
Vice President Sustainability APRIL Group, Lucita Sari, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengimplementasikan sejumlah program berbasis riset di Riau dan Kalimantan, salah satunya adalah RER (Restorasi Ekosistem Riau) — inisiatif restorasi seluas lebih dari 150 ribu hektare yang dijalankan bekerja sama dengan berbagai lembaga lingkungan.
“Kolaborasi dengan IUCN akan memperkuat pendekatan ilmiah kami. Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah konservasi yang kami ambil dapat diukur dampaknya, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” jelas Lucita.
Ia menambahkan, APRIL juga akan membuka akses data konservasi dan hasil riset kepada publik melalui platform digital yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti, pembuat kebijakan, dan komunitas konservasi global.

Baca juga: Pemerintah Fokus Perbaikan Infrastruktur 50 Kota Prioritas
Dorongan untuk Konservasi Inklusif
Selain memperkuat aspek ilmiah, kemitraan ini juga menekankan pentingnya konservasi inklusif, yakni pendekatan yang melibatkan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan.
IUCN dan APRIL sepakat bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari luasnya area yang dilindungi, tetapi juga dari keterlibatan masyarakat adat dan komunitas sekitar dalam proses pengelolaan sumber daya alam.
“Konservasi tidak bisa berjalan tanpa partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, kami memastikan setiap inisiatif memiliki manfaat sosial, termasuk peningkatan ekonomi lokal melalui praktik kehutanan berkelanjutan,” ungkap Lucita.
Indonesia Sebagai Pusat Pembelajaran Konservasi
Kerja sama ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat pembelajaran konservasi tropis dunia. Melalui berbagai inisiatif berbasis penelitian dan praktik lapangan, Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh sukses penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan antara ekonomi, sosial, dan ekologi.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Laksana Tri Handoko, yang turut hadir dalam forum tersebut, menyambut baik kemitraan global ini.
“BRIN siap mendukung upaya integrasi riset konservasi antara lembaga internasional dan sektor industri. Kolaborasi seperti ini penting agar inovasi dan kebijakan lingkungan bisa saling menguatkan,” katanya.
Membangun Masa Depan Konservasi yang Berkelanjutan
Dengan adanya kerja sama antara IUCN dan APRIL Group, diharapkan lahir pendekatan konservasi yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini juga menjadi langkah nyata menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam bidang aksi iklim, ekosistem darat, dan kemitraan global.
“Melalui ilmu pengetahuan, data yang terbuka, dan kemitraan lintas sektor, kita bisa menciptakan masa depan di mana ekonomi dan lingkungan tumbuh berdampingan,” pungkas Dr. Oberle.
Kerja sama ini menandai era baru konservasi yang lebih kolaboratif — menghubungkan sains, kebijakan, dan tanggung jawab korporasi dalam menjaga bumi untuk generasi mendatang.
















