Info Namun – Upaya memperkuat ketahanan pangan di Ibu Kota Nusantara (IKN) terus dilakukan pemerintah melalui berbagai strategi inovatif. Salah satu komoditas yang mulai dilirik sebagai solusi jangka panjang adalah padi gogo, varietas padi yang dapat dibudidayakan di lahan kering tanpa ketergantungan pada irigasi teknis. Penerapan padi gogo dinilai sangat relevan dengan karakteristik tanah dan ekosistem Kalimantan yang dominan berupa lahan kering.
Padi Gogo Dinilai Paling Adaptif untuk Kondisi Lahan IKN
Berbeda dengan padi sawah yang membutuhkan pasokan air stabil, padi gogo justru tumbuh optimal pada lahan yang tidak tergenang. Kondisi geografis IKN yang memiliki curah hujan tinggi namun minim irigasi membuat padi jenis ini menjadi primadona baru dalam perencanaan ketahanan pangan daerah.
Kepala Otorita IKN Bidang Pertanian menyebut padi gogo sebagai komoditas yang strategis karena mampu beradaptasi dengan cepat terhadap kondisi tanah masam dan lingkungan hutan hujan tropis.
“Padi gogo menjadi pilihan tepat untuk mengurangi ketergantungan pada suplai pangan dari luar daerah dan memperkuat kemandirian pangan Nusantara,” ujarnya.
Program Demoplot dan Pemberdayaan Petani Lokal
Otorita IKN bersama Kementerian Pertanian saat ini telah memulai berbagai demoplot dan kegiatan uji coba varietas padi gogo unggul di beberapa titik lahan budidaya. Petani lokal dari wilayah sekitar, seperti Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, dilibatkan secara aktif untuk memastikan transfer teknologi berjalan efektif.
Beberapa varietas yang diuji meliputi Inpago 12, Inpago 14, dan varietas lokal Kalimantan yang selama ini dikenal tahan terhadap hama, penyakit, serta perubahan cuaca.
“Selain varietas unggul, kami juga menerapkan sistem pertanian terpadu berbasis organik untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” tambah pejabat tersebut.

Baca juga: Pemerintah Perluas Transportasi Umum Massal di 20 Kota hingga 2030
Produktivitas Menggembirakan, Potensi Menarik Investor
Beberapa hasil demoplot menunjukkan produktivitas yang cukup menggembirakan, dengan rata-rata capaian di atas 4 ton per hektare, bahkan beberapa varietas mencapai lebih dari 5 ton. Angka ini dinilai menjanjikan untuk skala lahan kering, sehingga membuka peluang bagi hadirnya investasi sektor pertanian di IKN.
Tidak hanya produksi beras, pengembangan padi gogo juga mendorong rantai ekonomi baru bagi masyarakat, mulai dari penangkaran benih hingga industri pengolahan hasil panen.
Dukungan Infrastruktur dan Teknologi Diperkuat
Untuk memastikan produksi optimal, pemerintah juga memperkuat dukungan infrastruktur pertanian seperti jalan usaha tani, embung mikro untuk cadangan air, serta penyediaan pupuk organik melalui rumah kompos. Teknologi pemupukan berimbang dan sistem tanam jajar legowo turut diperkenalkan kepada petani.
Selain itu, digitalisasi pertanian berbasis sensor dan pemantauan cuaca mulai diterapkan guna meminimalkan risiko gagal panen.
Wujudkan Kemandirian Pangan IKN
Pengembangan padi gogo diharapkan menjadi pondasi utama mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan di Ibu Kota Nusantara. Pemerintah menargetkan sebagian kebutuhan beras bagi ASN, TNI/Polri, dan warga yang bermukim di IKN dapat disuplai dari produksi lokal dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami ingin IKN tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga model kota hijau yang mampu menyediakan pangan dari wilayahnya sendiri,” tegas pihak Otorita IKN.
















