Info Namun – Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan modernisasi perdagangan, sosok Papalele masih tetap bertahan di Kota Ambon. Profesi berjualan keliling yang identik dengan perempuan Maluku ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi telah menjadi simbol keteguhan, kemandirian, dan semangat hidup orang Maluku. Tak heran, tradisi Papalele kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Simbol Perempuan Pekerja Keras Maluku
Papalele berasal dari kata “lele” yang berarti menjual. Sejak ratusan tahun lalu, Papalele dikenal sebagai perempuan yang menjual hasil bumi seperti ikan, sagu, sayur, dan buah-buahan dari desa ke kota. Mereka berjalan kaki dari pagi hingga sore sambil membawa barang dagangan di atas kepala atau dalam bakul rotan di tangan.
Tradisi ini tidak hanya menunjukkan ketekunan, tetapi juga semangat kemandirian perempuan Maluku dalam menopang ekonomi keluarga.
“Papalele adalah ikon keteguhan perempuan Ambon. Mereka menjadi simbol perempuan yang tidak mudah menyerah dan mampu menjaga keseimbangan antara peran domestik dan ekonomi,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ambon, Kamis (16/10).
Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Penetapan Papalele sebagai Warisan Budaya Tak Benda dilakukan pada 2024 melalui sidang nasional WBTB di Jakarta. Tradisi ini dinilai memiliki nilai-nilai luhur yang penting untuk dilestarikan, terutama karena mengandung unsur sosial, ekonomi, dan budaya yang kuat di masyarakat Maluku.
Menurut tim peneliti dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII, Papalele bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan juga representasi budaya gotong royong dan interaksi sosial antara masyarakat pesisir dan pedalaman.
“Papalele membawa nilai solidaritas, kerja keras, dan kebersamaan. Melalui aktivitas jual beli sederhana, mereka menciptakan hubungan sosial yang erat antarwarga,” ujar salah satu anggota tim peneliti.

Baca juga: Keracunan MBG di Bima akibat Baru Dimakan Usai Lewati Batas Layak Konsumsi
Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi
Meski pasar modern dan teknologi digital kini berkembang pesat di Ambon, Papalele masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Mardika dan Pasar Batu Merah, para Papalele masih terlihat menawarkan dagangan dengan cara khas: berjalan sambil berseru menawarkan barang dengan logat Ambon yang khas.
“Biar sekarang sudah banyak toko, tapi Papalele tetap dicari. Mereka jual barang segar langsung dari kampung, harganya juga lebih murah,” kata Maria Pattiradjawane, warga Ambon yang rutin membeli dari Papalele.
Sebagian Papalele kini mulai beradaptasi dengan zaman. Beberapa di antaranya menggunakan sepeda motor, bahkan memanfaatkan media sosial untuk menjual hasil dagangannya secara daring. Namun, semangat dan cara tradisional mereka tetap dipertahankan.
Warisan yang Harus Dijaga Generasi Muda
Pemerintah Kota Ambon bersama komunitas budaya terus berupaya melestarikan tradisi Papalele melalui berbagai kegiatan, seperti festival budaya, lomba pakaian adat Papalele, hingga pelatihan wirausaha bagi perempuan pedagang.
“Papalele bukan hanya tentang berdagang, tapi tentang jati diri dan nilai-nilai perempuan Maluku. Kami ingin anak muda tahu dan bangga dengan warisan ini,” ujar Wali Kota Ambon dalam sambutannya pada perayaan Hari Ulang Tahun Kota Ambon ke-449 lalu.
Selain itu, Pemkot Ambon juga berencana mendorong pengakuan Papalele sebagai identitas ekonomi kreatif khas Maluku yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya.
Lebih dari Sekadar Profesi
Bagi masyarakat Ambon, Papalele bukan sekadar profesi, melainkan lambang cinta, kerja keras, dan ketulusan hidup sederhana. Di balik senyum dan langkah kaki mereka yang lincah, tersimpan cerita perjuangan panjang perempuan Maluku dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal.
Kini, dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Papalele diharapkan tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat Ambon modern.
“Papalele adalah bagian dari jiwa Ambon. Mereka berjalan bukan hanya untuk menjual, tapi membawa semangat hidup orang Maluku yang tidak pernah padam,” tutup Kepala Dinas Kebudayaan Ambon.
















