Info Namun — Proyek kereta tanpa rel atau autonomous rail rapid transit (ART) yang sempat mengaspal di jalan protokol kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada pertengahan tahun 2024, akhirnya resmi dibatalkan. Keputusan ini diumumkan oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) setelah melalui serangkaian evaluasi teknis, efisiensi anggaran, dan pertimbangan strategis terkait arah pembangunan transportasi di kawasan inti pemerintahan.
Kepala OIKN, Bambang Susantono, dalam keterangan tertulis, Selasa (4/11/2025), menyebut pembatalan proyek ini merupakan bagian dari penyesuaian kebijakan transportasi IKN yang lebih berorientasi pada teknologi ramah lingkungan dan efisiensi jangka panjang.
“Setelah dilakukan kajian mendalam bersama tim ahli transportasi dan Kementerian Perhubungan, diputuskan bahwa sistem kereta tanpa rel belum sesuai dengan kebutuhan dan kontur wilayah IKN saat ini. Fokus kita beralih ke sistem bus listrik cerdas dan autonomous shuttle yang lebih fleksibel,” ujarnya.
Uji Coba Singkat dan Sorotan Publik
Sebelumnya, pada Mei 2024, publik sempat dihebohkan dengan uji coba kereta tanpa rel buatan Tiongkok yang dihadirkan di IKN sebagai bagian dari rencana sistem transportasi masa depan. Kendaraan berteknologi rubber tire guidance itu diujicobakan di jalan utama kawasan pemerintah pusat dengan panjang lintasan sekitar 5 kilometer.
Penampilan ART di IKN kala itu mendapat banyak perhatian karena disebut-sebut sebagai simbol kemajuan transportasi cerdas Nusantara. Namun, tidak sedikit pula pihak yang mengkritik proyek tersebut, menilai teknologi itu belum teruji untuk kondisi geografis dan iklim Indonesia yang tropis.
Uji coba singkat tersebut bahkan sempat viral di media sosial, terutama karena kendaraan itu beroperasi di jalan beraspal tanpa rel konvensional, namun mengikuti jalur yang ditentukan oleh sensor dan marka digital di permukaan jalan.
Evaluasi dan Masalah Teknis
Sumber internal OIKN menyebutkan bahwa hasil evaluasi menunjukkan beberapa kendala utama, termasuk stabilitas kendaraan saat hujan deras, akurasi sensor pada kontur jalan bergelombang, serta biaya operasional dan pemeliharaan tinggi akibat perlunya teknologi impor.
“Konsep ART bagus di atas kertas, tapi dalam praktiknya belum ideal untuk kondisi jalan di IKN yang dinamis dan masih dalam tahap pembangunan,” ujar salah satu pejabat OIKN yang enggan disebut namanya.
Selain faktor teknis, pembatalan proyek ini juga dikaitkan dengan efisiensi anggaran. Pemerintah kini memilih mengalokasikan dana ke pembangunan jalur bus listrik massal (electric BRT) dan sistem angkutan otonom berbasis energi bersih yang bisa digunakan secara bertahap seiring berkembangnya kota.

Baca juga: Progres Pembangunan Taman Lapangan Yasmin Sektor 6 Capai 90 Persen
Fokus Baru Transportasi Hijau
Dengan dibatalkannya proyek ART, OIKN menegaskan komitmennya untuk mempercepat implementasi smart mobility system berbasis kendaraan listrik, termasuk armada bus listrik kecil dan sepeda listrik bersama (e-bike sharing) untuk mobilitas warga.
“Kami tidak ingin terburu-buru membawa teknologi yang mahal namun tidak efisien. Prinsip kami adalah tepat guna, berkelanjutan, dan ramah lingkungan,” tegas Bambang.
Pihaknya juga memastikan pembatalan ini tidak akan mengganggu target IKN menjadi kota hijau dengan sistem transportasi rendah emisi. Sebaliknya, keputusan tersebut dianggap langkah realistis untuk memastikan setiap investasi publik memiliki dampak optimal.
Publik Harap Transparansi
Beberapa pengamat menilai langkah OIKN sudah tepat, namun meminta transparansi soal penggunaan anggaran uji coba ART yang sempat dilakukan. “Publik berhak tahu berapa biaya yang telah dikeluarkan, serta apa hasil evaluasi teknisnya,” kata Darman Saputra, pengamat transportasi dari ITB.
Dengan keputusan ini, OIKN akan menyusun ulang peta jalan transportasi IKN untuk diselaraskan dengan visi jangka panjang sebagai kota futuristik berbasis teknologi rendah karbon.
“Kereta tanpa rel mungkin batal, tapi konsep mobilitas hijau Nusantara justru semakin jelas arahnya,” pungkas Bambang.
















