Info Namun – Wali Kota Jakarta Pusat memberikan perhatian serius terhadap maraknya kasus penipuan melalui panggilan telepon dan pesan WhatsApp yang belakangan meresahkan masyarakat. Meski berbagai upaya dilakukan untuk menekan kejahatan siber ini, ia mengakui bahwa pelaku penipuan digital sulit dilacak lantaran menggunakan metode yang semakin canggih.
Modus Penipuan Terus Berkembang
Dalam beberapa bulan terakhir, warga Jakarta Pusat melaporkan banyak kasus penipuan melalui aplikasi WhatsApp. Modus yang digunakan beragam, mulai dari penawaran investasi bodong, permintaan transfer dengan menyamar sebagai keluarga atau atasan, hingga penipuan undangan palsu berbentuk file berbahaya.
“Pelaku biasanya memakai nomor luar negeri atau nomor sekali pakai. Begitu dilacak, nomor tersebut sudah tidak aktif. Inilah yang membuat aparat kepolisian dan pihak terkait kesulitan menindak,” kata Wali Kota Jakpus.
Tantangan Penegakan Hukum
Menurutnya, kejahatan siber memiliki karakter berbeda dengan kejahatan konvensional. Para pelaku bisa berada di luar kota bahkan luar negeri, sehingga koordinasi lintas wilayah dan negara menjadi tantangan besar.
“Ini bukan perkara sederhana. Jaringan mereka kadang sangat terorganisir. Kita perlu kerja sama antara kepolisian, Kominfo, hingga operator telekomunikasi untuk menutup ruang gerak para pelaku,” tegasnya.

Baca juga: Bantah Copot Kepsek, Wali Kota Prabumulih Justru Terbukti Mutasi Roni Tanpa Prosedur
Himbauan untuk Masyarakat
Di tengah maraknya kasus ini, pemerintah kota mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap panggilan atau pesan mencurigakan. Warga diminta tidak mudah percaya pada ajakan transfer uang, link undangan digital, maupun tawaran pekerjaan instan dengan gaji tidak masuk akal.
“Kami minta masyarakat jangan buru-buru percaya. Pastikan informasi benar dengan cara menghubungi langsung pihak terkait. Kalau ragu, abaikan saja panggilan itu,” ujar sang wali kota.
Pentingnya Literasi Digital
Selain tindakan hukum, pemerintah juga menekankan pentingnya literasi digital. Edukasi mengenai cara mengenali modus penipuan, penggunaan aplikasi resmi, hingga perlindungan data pribadi menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak.
“Kalau masyarakat paham trik-trik penipuan, peluang pelaku untuk berhasil jauh lebih kecil. Karena itu, edukasi dan sosialisasi harus terus kita dorong, baik lewat sekolah, komunitas, maupun media sosial,” tambahnya.
Dorongan Kolaborasi
Wali Kota Jakarta Pusat juga menyatakan pihaknya siap bekerja sama dengan kepolisian, Kominfo, serta lembaga perlindungan konsumen untuk membangun sistem peringatan dini terhadap modus penipuan digital. Dengan demikian, masyarakat bisa segera mendapatkan informasi terkini terkait pola-pola baru yang digunakan pelaku.
“Kita harus bergerak bersama. Pemerintah, aparat, dan masyarakat harus saling melindungi. Kalau dibiarkan, kasus ini bisa terus memakan korban,” tandasnya.
















